Minggu, 02 Maret 2014

BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat signifikan dalam sebuah kehidupan berbangsa. Pendidikan merupakan media strategis dalam memacu kualitas sumber daya manusia. Hal ini telah menjadikan pendidikan bagian terpenting untuk keberlangsungan, perkembangan dan kemajuan suatu negara.
Dengan melihat peran pendidikan yang sangat strategis ini, sudah menjadi keharusan bagi masyarakat pada khususnya dan negara pada umumnya untuk menjadikannya sebagai “agenda besar” negara agar keberlangsungan, perkembangan dan kemajuan negara ini dapat terjamin.
Berdasarkan realita yang ada, terdapat kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan implementasi dari pendidikan itu sendiri. Posisi Indonesia menduduki peringkat 10 dari 14 negara berkembang di kawasan Asia Pasifik. Peringkat ini dilansir dari laporan monitoring global yang dikeluarkan lembaga PBB, Unesco. Penelitian terhadap kualitas pendidikan dasar ini dilakukan oleh Asian South Pacific Beurau of Adult Education (ASPBAE) dan Global Campaign for Education. Studi dilakukan di 14 negara pada bulan Maret-Juni 2005. Rangking pertama diduduki Thailand, kemudian disusul Malaysia, Sri Langka, Filipina, Cina, Vietnam, Bangladesh, Kamboja, India, Indonesia, Nepal, Papua Nugini, Kep. Solomon, dan Pakistan. Indonesia mendapat nilai 42 dari 100 dan memiliki rata-rata E. Untuk aspek penyediaan pendidikan dasar lengkap, Indonesia mendapat nilai C dan menduduki peringkat ke 7. Pada aspek aksi negara, RI memperoleh huruf mutu F pada peringkat ke 11. Sedangkan aspek kualitas input/pengajar, RI diberi nilai E dan menduduki peringkat ke 14 (terakhir). 
Ini adalah obat pahit yang harus ditelan bangsa ini, agar dapat menjadi refleksi terhadap potret pendidikan bangsa ini. Namun ini bukanlah harga mati bagi bangsa ini karena masih banyak peluang untuk meningkatkan kualitas pendidikan bangsa ini, jika bangsa ini mau belajar dengan bangsa lain yang telah mengalami kamajuan dalam bidang pendidikan.
Dalam perjalanan sejarah berdirinya Negara Vietnam dari sejak awal kemerdekaan sampai dengan sekarang ini telah mengalami perkembangan yang cukup signifikan di berbagai bidang, termasuk di bidang pendidikan. Negara Vietnam telah dijajah pertama oleh Prancis dan kedua oleh Amerika Serikat, kemudian Negara Vietnam memperoleh kemerdekaannnya secara mutlak pada tanggal 30 April 1975. Dibandingkan dengan negara-negara lain yang ada di Asia Tenggara dan ASEAN, Vietnam yang memperoleh kemerdekaan yang boleh dikatakan relatif baru tentunya berpengaruh kepada aspek perkembangan pendidikan. Namun demikian sejak tahun 1986 pemerintah Vietnam telah membuat berbagai macam kebijakan untuk memacu pengembangan pendidikan melalui kebijakan kurikulum yang diberlakukan kepada semua jenjang pendidikan, baik dari tingkat pendidikan dasar (SD), tingkat pendidikan menengah (SMP dan SMA), maupun di tingkat pendidikan tinggi (Perguruan Tinggi) negeri dan swasta.
Melalui kebijakan pemerintah tersebut, dewasa ini di Vietnam telah mengalami pemerataan dan penyebaran pembangunan fisik sebagai wadah pendidikan sesuai jenjangnya, misalnya di setiap desa telah terdapat pendidikan dasar (SD), di setiap kecamatan terdapat beberapa SMP dan di setiap kabupaten terdapat beberapa SMA/SMK serta terdapat juga beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta. Khusus untuk jenjang pendidikan tinggi (Perguruan Tinggi) saat ini di Vietnam terdapat 235 Perguruan Tinggi (universitas dan D3) negeri dan 77 Perguruan Tinggi (universitas dan D3) swasta yang tersebar di 40 Propinsi dari 63 Propinsi yang ada di Vietnam. Perkembangan pendidikan tinggi yang selalu mengacu kepada kurikulum pendidikan tinggi sangat baik, hal ini terlihat setelah terbukanya begitu banyak akses jaringan komunikasi antar perguruan tinggi termasuk kerjasama antar perguruan tinggi dalam hal peningkatan mutu dan kualitas sistem pengajaran (bahan ajar) dan kualitas lulusan. Kerjasasama dalam peningkatan mutu dan kualitas itu disamping dilakukan di dalam negeri juga dilakukan dengan perguruan tinggi lainnya yang ada di luar negeri.
Dalam upaya meningkatkan mutu dan kualitas pendididakan di Vietnam, pemerintah melakukan berbagai upaya untuk ke arah itu, misalnya pemerintah membuka ruang kepada setiap jenjang pendidikan untuk mengembangkan potensinya masing-masing baik dari tingkat pendidikan dasar (SD) sampai pendidikan tinggi (Perguruan Tinggi). Khusus di perguruan tinggi melalaui kebijakan kurikulum memberikan kesempatan kepada para pengajar (dosen) dan mahasiswa untuk mengembangkan potensi dan keahlian sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya baik di bidang pengajaran, penelitian, maupun pengabdian pada masyarakat serta pemikiran mandiri dan menghormati perbedaan kepribadian. Selain itu, untuk meningkatkan kualitas pada aspek kognisi di setiap jenjang pendidikan, pemerintah melalui pengelola satuan/unit pendidikan memberikan bantuan dan perhatian yang khusus dalam hal pengembangan perpustakaan, kurikulum, dan metode pengajaran.
Seiring dengan hal tersebut di atas, pada tahun 2004 Menteri Pendidikan Nguyen Thien Nhan mengeluarkan keputusan tentang pengawasan kualitas pendidikan di tingkat perguruan tinggi walaupun sampai sekarang ini pelaksaannya masih mengalami banyak kedala. Adapun kualitas pendidikan yang dimaksud adalah terpenuhinya beberapa syarat kualitas pembelajaran di sesuatu universitas dan tujuan tri dharma universitas yang sesuai dengan UU Pendidikan. Kualitas pendidikan di perguruan tinggi tersebut sangat diharapkan nantinya akan dapat menciptakan sumber daya manusia yang bermutu dan dapat terserap di semua lapangan pekerjaan, sehingga pembangunan sosial dan ekonomi serta seluruh aspek kehidupan baik lokal maupun nasional dapat segera terwujud. Konsep ini juga sangat terbuka, termasuk tujuan umum pendidikan, tujuan khusus pendidikan, dan proses untuk mencapai keberhasilan dari tujuan itu. Namun semua tujuan tersebut akan tercapai apabila di semua jenjang pendidikan harus benar-benar memperhatikan standar mutu pendidikan termasuk juga di tingkat perguruan tinggi sehingga dengan tercapainya mutu dan kualitas pendidikan, maka kualitas lulusanpun tercapai dan akhirnya terpenuhilah tujuan pendidikan nasional, harapan pemerintah/negara, dan keinginan masyarakat.


1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan perbandingan pendidikan?
2.      Bagaimana perbandingan sistem  pendidikan di Indonesia dan Vietnam?


1.3  Tujuan
Tujuan penulis membuat makalah ini adalah untuk mengetahui sistem pendidikan di Indonesia dan Vietnam.















BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian Perbandingan Pendidikan
Menurut Carter V. Good definisi perbandingan pendidikan  adalah  lapangan studi yang mempunyai tugas untuk mengadakan perbandingan teori dan praktek pendidikan sebagaimana terdapat pada berbagai negara pendidikan di luar negeri sendiri. Definisi ini menunjuk aspek operasional dari pendidikan yang terdapat di suatu negara atau masyarakat. Didalam mempelajari sistem pendidikan suatu negara secara perbandingan, tidak boleh tidak mesti memperhatikan dimensi waktu, mempelajari latar belakang atau faktor yang lain.
Menurut pengertian dasar perbandingan pendidikan adalah berarti menganalisa dua hal atau lebih untuk mencari kesamaan – kesamaan dan perbedaan – perbedaannya. Dengan demikian maka studi perbandingan pendidikan ini adalah mengandung pengertian sebagai usaha menganalisa dan mempelajari secara mendalam dua hal atau aspek dari sistem pendidikan, untuk mencari dan menemukan kesamaan – kesamaan dan perbedaan – perbedaan yang ada dari kedua hal tersebut.
Perbandingan pendidikan merupakan terjemahan dari istilah “Comparative Education”. Sementara ahli yang lain, mengalihkan istilah tersebut ke dalam bahasa Indonesia. Dengan menggunakan istilah pendidikan perbandingan. Namun pada dasarnya berbagai istilah yang digunakan mempunyai pengertian yang sama, yaitu sebagai studi komparatif (studi perbandingan) tentang pendidikstudan. Atau bisa juga disebut dengan studi tentang pendidikan yang menggunakan pendekatan dan metode perbandingan.
Jadi, perbandingan pendidikan adalah menganalis dua atau lebih untuk mencari kesamaan-kesamaan atau perbedaan-perbedaan dari pendidkan tersebut.


2.2  Perbedaan Sistem Pendidikan di Indonesia dan Vietnam

2.2.1 Sistem Pendidikan di Indonesia

1. Sejarah Pendidikan
a.   Pra Kemerdekaan
1)   Masa Pemerintahan Belanda
Pada masa ini pendidikan terbagi menjadi empat yaitu pendidikan rendah, pendidikan menengah, pendidikan kejuruan dan pendidikan tinggi. Tujuan pendidikan pada masa penjejahan belanda lebih ditiik beratkan kepada pemenuhan kebutuhan pemerintahan Belanda, yaitu tersedianya tenaga kerja murah untuk hegemoni penjajah dan untuk penyebarluasan kebuadayaan barat.
     2)   Masa Pemerintahan Jepang
Sistem pendidikan pada masa pendudukan Jepang disimpulkan sebagai berikut:
(a)    Pendidikan Dasar (Kokumin Gakko / Sekolah Rakyat). Lama studi 6 tahun. Termasuk SR adalah Sekolah Pertama yang merupakan konversi nama dari Sekolah dasar 3 atau 5 tahun bagi pribumi di masa Hindia Belanda.
(b)   Pendidikan Lanjutan. Terdiri dari Shoto Chu Gakko (Sekolah Menengah Pertama) dengan lama studi 3 tahun dan Koto Chu Gakko (Sekolah Menengah Tinggi) juga dengan lama studi 3 tahun.
(c)    Pendidikan Kejuruan.  mencakup sekolah lanjutan bersifat vokasional antara lain di bidang pertukangan, pelayaran, pendidikan, teknik, dan pertanian.
(d)   Pendidikan TinggiPada masa pendudukan jepang, system pendidikan Indonesia banyak mengalami perubahan. Beberapa sekolah diintegrasikan karena dihapuskannya system pendidikan berdasarkan bangsa maupun strata social tertentu. Bahasa pengantar disemua sekolah menggunakan bahasa Indonesia. Tujuan pendidikan lebih ditekankan kepada dihasilkannya tenaga buruh kasar secara cuma-cuma dan prajurit untuk keperluan peperangan jepang.

  
b.   Masa Kemerdekaan
Pada masa kemerdekaan, tujuan pendidikan adalah untuk mendidik menjadi warga Negara yang sejati, bersedia menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk Negara dan masyarakat.
1.        Priode tahun 1945-1940
a.       Pendidikan Rendah (SR) selama 6 tahun
b.      Pendidikan menengah umum terdiri atas sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah               Menengah Atas (SMA) lamanya masing-masing 3 tahun.
c.       Pendidikan Kejuruan
Tingkat Pertama terdiri atas :
1)      Sekolah Menegah Ekonomi Pertama (SMEP)
2)      Sekolah Teknik
3)      Sekolah Teknik Pertama
4)      Sekolah Kepandaian Pertama (SKP)
5)      Sekolah Guru B (SGB)
6)      Sekolah Guru Darurat untuk kewajiban belajar (KPKPKB)
     Tingkat Menengah, terdiri atas :
1)      Sekolah Teknik Menengah (STM)
2)      Sekolah Menengah ekonomi Atas (SMEA)
3)      Sekolah Pendidikan Masyarakat (SPM)
4)      Sekolah Menengah Kehakiman Atas (SMKA)
5)      Sekolah Guru A (SGA)
6)      Sekolah Guru Taman Kanak-kanak (SGTK)
7)      Sekolah Guru Kepandaian Puteri (SGKP)
8)      Sekolah Guru Pendidikan Jasmani (SGPJ)


c. Priode tahun 1950 – 1975
a)    Pendidikan Pra Sekolah dan Pendidikan Dasar :Taman kanak-kanak (TK) dan Sekolah Dasar (SD)
b)   Pendidikn Menengah Umum dan Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas Pendidikan Kejuruan :
c)    Pendidikan Kejuruan :
a)      Tingkat Pertama :SMEP, SKP, ST, SGB & KPKPKB
b)      Tingkat Menengah : : SMEA, SGA, SKMA, SGKP, SPMA, SPM, STM & SPIK
d)   Perguruan Tinggi terdiri dari Universitas, Konservatori/Kerawitan, Kursus B1 dan ASRI.

d.    Priode tahun 1978 – Sekarang
a)   Pendidikan Pra Sekolah dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
b)   Pendidikan Dasar
c)   Pendidikan Menengah Umum SMP(SLTA) dan SMA(SLTA/SMU)
d)  Pendidikan Kejuruan :
1)      Tingkat Pertama : ST, SKKP
2)      Tingkat Atas : Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

e)   Pendidikan Tinggi : Universitas, Institut, Sekolah Tinggi, Akademi, Diploma              dan Politeknik.

2.        Sistem Pendidikan
Dalam Undang - Undang Sisdiknas tahun 2003 disebutkan bahwa, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam, yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi.
Berdasarkan UU Sisdiknas No.20 Tahun 2003 disebutkan bahwa jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Pendidikan di Indonesia mengenal tiga jenjang pendidikan, yaitu pendidikan dasar (SD/MI/Paket A dan SLTP/MTs/Paket B), pendidikan menengah (SMU, SMK), dan pendidikan tinggi. Meski tidak termasuk dalam jenjang pendidikan, terdapat pula pendidikan anak usia dini, pendidikan yang diberikan sebelum memasuki pendidikan dasar. Adapun  jenjang pendidikan di Indonesia ada 3 yaitu :
a)    Pendidikan Dasar
Pendidikan ini merupakan pendidikan awal selama 9 tahun pertama masa sekolah anak-anak, yaitu di Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pada masa ini para siswa mempelajari bidang-bidang studi antara lain: - Ilmu Pengetahuan Alam - Matematika - Ilmu Pengetahuan Sosial - Bahasa Indonesia - Bahasa Inggris - Pendidikan Seni - Pendidikan Olahraga. Di akhir masa pendidikan di SD, para siswa harus mengikuti dan lulus dari Ujian Nasional (UN) untuk dapat melanjutkan pendidikannya ke SMP dengan lama pendidikan 3 tahun.
b)    Pendidikan Menengah
Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar, terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.
c)     Pendidikan tinggi
Pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program sarjanamagisterdoktor, dan spesialis yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Jenjang pendidikan tinggi di Indonesia terdiri dari beberapa macam dimana, pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, special dan doctor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi (UU, Sisdiknas, pasal 19:2003).Perguruan tinggi dapat berbentuk Akademi, Politeknik, Sekolah tinggi, Institut dan  Universitas.
Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi dan vokasi (UU, Sisdiknas, pasal 20:2003). Kerangka dasar dan kurikulum pendidikan tinggi di Indonesia dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi. Dimana kurikulum pendidikan tinggi wajib memuatkan pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan dan bahasa.
Berbeda dengan sekolah menengah, perguruan tinggi menerapkan sistem kredit semester (SKS). Di perguruan tinggi, seorang mahasiswa jika dapat menghabiskan jumlah kredit mata kuliah yang ditargetkan dn dapat menempuhnya dalam waktu tertentu sesuai dengan rencana yang diprogramkan, mahasiswa tersebut dapat menyelesaikan pendidikan tinggi Strata 1 (S1) dalam waktu 4 tahun. Namun bila tidak sanggup karena banyak mengulang mata kuliah yang rendah nilainya atau karena cuti, waktu yang ditempuh untuk diwisuda sebagai seorang sarjana bisa lebih dari 4 tahun. Kalau ia berhasil wisuda dan berniat melanjutkan studi lanjut, masih ada dua tahap dalam pendidikan tinggi yang dapat ditempuhnya, yaitu jenjang S2 atau Magister yang normalnya ditempuh selama 2 tahun, dan jenjang Sedangkan S3 atau doctor yang efektifnya ditempuh selama 2 tahun, sedangkan sisanya untuk penelitian. Apabila seluruh tahap pendidikan tinggi ini ditempuh, diberi gelar doctor untuk bidang yang dipilihnya.

3.        Kurikulum Pendidikan
Perkembangan Kurikulum di Indonesia dapat dibedakan menjadi :
a.       Kurikulum sebelum tahun 1945 meliputi Kurikulum pada masa VOC, Kurikulum               Sebelum 1892 (Sebelum Reorganisasi). Kurikulum Setelah 1892 ( Setelah Reorganisasi), Kurikulum Sekolah Kelas Dua, Kurikulum VolkSchool, Kurikulum ELS (Europese Lagere School,), Kurikulum HCS (Holland Chinese School), Kurikulum HIS (Holland Inlandse School), Kurikulum MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), dan Kurikulum HBS (Hogere Burger School)
b.      Kurikulum setelah tahun 1945 meliputi : Kurikulum 1947, Kurikulum 1952, Rentjana Pelajaran Terurai 1952, Kurikulum 1964, Rentjana Pendidikan 1964, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999, Kurikulum 2004, KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), Kurikulum 2006, KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan).
    
   

2.2.2 Sistem Pendidikan di Vietnam
1.   Sejarah Pendidikan
a.    Pendidikan di bawah Cina
Cina menempati Vietnam antara 111 SM dan 939 M, sistem pendidikan Vietnam awalnya adalah sistem Konfusian Cina pemeriksaan hierarkis. Sistem ini terutama bertugas untuk perekrutan pegawai negeri yang setia, yang dilatih sesuai dengan moral dan etika Konfusian. Isi pendidikan utama dari sistem ini diambil dari Lima Klasik Cina dan Konghucu Empat Buku. Namun, Mahayana Buddhisme juga memiliki beberapa pengaruh penting pada sistem.
Bahasa Vietnam awalnya tidak memiliki naskah sendiri,layanan  sistem ujian sipil yang digunakan adalah karakter Cina sebagai media pengajaran dan pembelajaran. Selama abad ketiga belas, para sarjana Vietnam mengembangkan sistem script pertama nasional (nom), sedangkan berdasarkan karakter Cina, dibangun sekitar pengucapan kata-kata Vietnam. Namun, script ini tidak menyebar di antara penduduk umum, karena menuntut pengetahuan yang luas dari Cina tertulis. Pada abad keenam belas, Kristen Portugis dan misionaris Prancis tiba di Vietnam dan kemudian mengembangkan Quoc, yang saat ini digunakan ngu script, yang menggunakan abjad Latin dengan tanda-tanda diakritik. Selama pendudukan kolonial, orang Vietnam menyatakan Prancis, ditulis dalam Quoc ngu, dan Prancis dua bahasa resmi.

b.   Pendidikan di Masa Kolonial
Setelah beberapa perubahan, sistem pendidikan kolonial akhirnya terdiri tiga tahun sekolah dasar (Certificat d'Etudes élémentaire pribumi), tiga tahun sekolah dasar (Certificat d'Etudes primaires franco-pribumi), empat tahun sekolah dasar komplementer (Diplome d' Études primaires supérieurs franco pribumi),dan tiga tahun sekolah menengah (baccalauréat lokal). Melayani kebutuhan yang luas dari pemerintah kolonial, pegawai negeri sipil dibayar rendah. Sistem pendidikan kolonial difokuskan pada pelatihan praktis dan pada akuisisi bahasa Perancis. Selain itu, meskipun ujian akhir Konfusian resmi diadakan di tahun 1918, selama sebagian besar periode instruksi Konfusianisme kolonial tradisional tetap ada, seperti yang dilakukan Buddhis pendidikan, disediakan untuk para bhikshu di masa depan.

c.    Pendidikan di Vietnam Dua
Selama pemisahan negara antara 1954 dan 1975, dua sistem pendidikan yang berbeda dikembangkan. Di Utara, Presiden Ho Chi Minh (1890-1969) meluncurkan kampanye keaksaraan besar yang sangat sukses. Reformasi pendidikan ditujukan untuk membangun sistem pendidikan sosialis, model Soviet. Sistem sekolah terdiri dari sembilan kemudian sepuluh tahun di sekolah secara total.. Berbagai sekolah menengah kejuruan dan pusat-pusat pelatihan yang dikembangkan menyediakan personil untuk lebih rendah-tingkat karir di sektor negara.
Pendidikan tinggi diberikan dengan sangat khusus, universitas Polytechnical, dan perguruan tinggi. Pendidikan pascasarjana dilakukan di Uni Soviet, Jerman Timur, Polandia, dan Cekoslovakia. Pendidikan diselenggarakan oleh lima dan satu tahun rencana negara dan melayani kebutuhan nasional akan tenaga kerja yang berkualitas. Setelah lulus, para siswa kemudian bekerja di sektor negara.
Di Selatan, sebuah sistem dua belas tahun dipromosikan oleh pemerintah. Sekolah menengah kejuruan, pusat pelatihan kejuruan, dan on-the-job kesempatan pelatihan didirikan untuk melayani pasar tenaga kerja. Universitas seperti Universitas Saigon dan Can Tho, serta perguruan tinggi, yang dikembangkan pada model Amerika.

d.   Pendidikan Setelah Reunifikasi
Vietnam bersatu pada tahun 1975, dan reformasi pendidikan ketiga dimulai pada tahun 1979. Upaya yang dilakukan untuk menyatukan dua sistem sekolah yang berbeda dan membangun sistem pendidikan nasional sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan gratis untuk semua pendidikan Politeknik, mengikuti model sosialis, dan prioritas bagi ideologi sosialis dan pekerjaan praktis di semua kurikulum pengajaran. Hal ini membawa tentang penutupan sekitar 2.500 lembaga pendidikan swasta di Selatan.
Pendidikan tinggi siswa dipilih berdasarkan curriculum vitae pribadi mereka dan asal-usul sosial, dan siswa program pertukaran hampir secara eksklusif diselenggarakan dengan negara-negara dari Eropa Timur dan Uni Soviet. Pengajaran bahasa asing difokuskan pada Rusia dan Jerman.
Sejak diresmikan doi moi (renovasi) sebagai program reformasi kebijakan pada tahun 1986, sistem pendidikan nasional telah disesuaikan dengan keadaan baru. Terdiri dari komponen-komponen berikut: tempat TK publik, yang melayani anak-anak dari tiga bulan sampai empat tahun, prasekolah publik untuk anak-anak setidaknya lima tahun, sekolah dasar umum untuk anak-anak antara enam dan sepuluh (lima tahun) , masyarakat menengah lebih rendah untuk anak-anak antara sebelas dan empat belas (empat tahun ), pusat pelatihan kejuruan di tingkat menengah rendah (di bawah satu tahun), sekolah menengah atas untuk siswa antara lima belas dan tujuh belas tahun, sekolah menengah kejuruan di tingkat menengah atas (tiga sampai empat tahun), sekolah teknis sekunder di tingkat menengah atas (tiga sampai empat tahun), dan pusat-pusat pelatihan kejuruan di tingkat menengah atas (1-2 tahun). Selain itu, kesempatan yang berbeda untuk di kursus pelatihan yang ditawarkan oleh perusahaan. Pendidikan tinggi terdiri dari universitas (3-6 tahun) dan perguruan tinggi (2-4 tahun). Pendidikan pascasarjana terdiri dari master dan program doktor.
Ketika Partai Keenam Kongres Partai Komunis Vietnam meliberalisasi ekonomi dan menyatakan langkah-langkah reformasi yang lebih berorientasi pasar, salah satu konsekuensi langsung adalah penurunan dalam pendidikan di semua tingkatan. Pendapatan penggalangan memaksa orang untuk memutuskan antara kontribusi anak anatara pendapatan keluarga atau pendidikan. Selain itu, ada langkah-langkah reformasi pendidikan, yang mencerminkan keseluruhan transisi ke ekonomi multisektor. Langkah-langkah reformasi dapat dikelompokkan menjadi lima kategori: diversifikasi sumber daya keuangan, upaya untuk internasionalisasi sistem pendidikan melalui reformasi struktural organisasi pendidikan tinggi, penarikan dari negara dipromosikan untuk desentralisasi pengambilan keputusan dalam pendidikan Vietnam, peningkatan secara keseluruhan dalam dokumen hukum yang menyertai transformasi dan berpuncak pada diberlakukannya undang-undang pendidikan nasional pertama di tahun 1999 dan metode mendorong pembangunan pendidikan elit, yang mengakibatkan pembangunan kembali sekolah-sekolah dan kelas siswa berbakat.
Ini proses perubahan yang paralel dengan tren di kalangan masyarakat umum. Kecenderungan membuat upaya ekstensif dan investasi untuk mendapatkan instruksi tambahan dan persiapan untuk keturunan dalam meningkatkan kesempatan untuk karir masa depan (termasuk mengorbankan anak-anak mereka untuk belajar di luar negeri di negara-negara Asia Tenggara, Australia, Amerika Serikat, dan Eropa).
Pendidikan stratifikasi yang dihasilkan dari diferensiasi struktur keseluruhan pendapatan, khususnya antara daerah perkotaan dan pedesaan, yang dipilih adalah disiplin (preferensi untuk bahasa Inggris, Cina, teknologi komunikasi, ilmu komputer, hukum, ekonomi, administrasi publik, dan sebagainya).

2.   Kelembagaan Pendidikan
a.     Jalur Pendidikan
Ada dua pengelompokan luas dari lembaga pendidikan di Vietnam yaitu :
1)     Lembaga mono-disipliner atau khusus tradisional
Kelompok pertama adalah lebih umum di Vietnam di bawah kebijakan-pra Doi Moi (renovasi). Ini memfokuskan pada area tunggal atau subyek fokus, misalnya hukum, seni, teknik, ekonomi, dll
2)   Universitas multi-disiplin
Dalam beberapa tahun terakhir banyak dari lembaga-lembaga mantan fokus tunggal telah mengambil fokus multi-disiplin. Sebagai contoh, Hanoi University of Foreign Studies terpusat pada pelatihan bahasa asing, kini memiliki fokus yang lebih luas pada bisnis dan subjek Universitas standar.
Multi-disiplin universitas meningkat dan saat ini terdapat 2 perguruan tinggi nasional, 3 universitas-universitas daerah dan perguruan tinggi akan ditambahkan setiap saat. Selain itu, Moet telah mengizinkan untuk memungkinkan sektor swasta untuk set-up perguruan tinggi dan universitas dan perusahaan, seperti FPT di Hanoi dan Becamex dengan Mien Dong atau Timur International University di Provinsi Binh Duong sudah melakukan hal ini. Vietnam sudah memiliki sebuah universitas asing di RMIT International University yang dibuka pada tahun 2001 dan sekarang memiliki lebih dari 3.000 siswa dan University Jerman akan membuka Ho Chi Minh City di Selatan. Selain itu, ada lebih dari 200 program kerjasama antara Universitas Vietnam dan institusi asing.

b.     Jenjang Pendidikan
1)    Pendidikan Primer
Sistem pendidikan dasar di Vietnam direvisi selama tahun 2002-2003 akademik dan sekarang berisi dua fase yaitu :
a.        Tahap pertama mencakup kelas 1-3 dan diselenggarakan sekitar tujuh mata pelajaran: seni, matematika, moralitas, musik, alam dan masyarakat, pendidikan jasmani, dan bahasa Vietnam.
b.      Tahap kedua mencakup kelas 4 dan 5 yang mencakup sekitar sembilan mata pelajaran: seni, teknik dasar, geografi, sejarah, matematika, moralitas, ilmu pengetahuan, pendidikan jasmani, dan bahasa Vietnam.
Selain restrukturisasi sistem pendidikan dasar, metode pengajaran, penilaian, dan buku-buku pelajaran juga direvisi.
Banyak tantangan yang dihadapi Vietnam dalam pendidikan. Tantangan-tantangan adalah dana yang tidak mencukupi, kesulitan dalam mempertahankan kualitas pendidikan universal, dan terbatasnya jumlah guru yang berkualitas dan ruang kelas. Tantangan lain bangsa adalah terlalu banyak siswa hanya menghadiri kelas setengah hari dan sekitar 660 jam sekolah per tahun dibandingkan dengan rata-rata 1.000 jam per tahun di negara-negara lain.

2)   Pendidikan Sekunder
Sistem pendidikan menengah terdiri dari dua fase, mirip dengan sistem pendidikan dasar. Tahap pertama mencakup kelas 6-9 dan mengharuskan siswa memiliki ijazah pendidikan dasar. Tahap keduamencakup Kelas 10-12 dan mengharuskan siswa memiliki ijazah pendidikan dasar menengah.
Pendidikan menengah di Vietnam berfokus pada pengembangan kreativitas siswa dan motivasi diri untuk mendorong minat mereka dalam studi mereka. Dalam rangka mendorong kualitas ini, kurikulum mencakup seni, keterampilan dasar, moralitas, dan tubuh fisik.

3)   Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi bertujuan untuk mendorong siswa dengan kualifikasi politik dan moral yang siap untuk melayani bangsa, mengembangkan pengetahuan praktis, kesehatan yang baik dan kemampuan yang berkontribusi untuk kemajuan bangsa dan pertahanan.
Siswa dengan pendidikan menengah atas atau sekunder sertifikat pendidikan kejuruan, dapat menghadiri program 3-tahun kuliah yang melatih siswa untuk karir tertentu dan menyediakan keterampilan praktis dan pemecahan masalah.
Program Sarjana di Vietnam berlangsung 4-6 tahun dengan pendidikan menengah atas atau sertifikat pendidikan menengah kejuruan, dan satu sampai dua tahun bagi siswa yang telah menyelesaikan program perguruan tinggi yang berkaitan dengan wilayah subjek yang sama.Derajat yang diterima dari lembaga pendidikan tinggi bervariasi tergantung pada sekolah. Siswa yang lulus dari :
a)    Perguruan tinggi menerima ijazah perguruan tinggi
b)   Program S menerima gelar sarjana
c)    Program master menerima gelar master (ex: Master of Arts, Master of Business Administration)
d)   Program Doktor menerima gelar doctor

3.   Jenis Program Pendidikan
a.   Pendidikan Anak Usia Dini
Sesuai dengan Undang-Undang Pendidikan (1998), pendidikan anak usia dini (PADU) meliputi crèches dan TK. Bertanggung jawab untuk mengasuh dan mendidik anak-anak dari 3 bulan sampai 6 tahun.
Tujuan dari ECE adalah untuk meningkatkan kesejahteraan anak-anak secara fisik, moral, intelektual dan estetis, serta untuk meletakkan landasan bagi kepribadian mereka, dan untuk membantu di pendidikan sekolah dasar.

b.   Pendidikan Dasar
Dinyatakan dalam Konstitusi 1992 Republik Sosialis Vietnam Pasal 59 bahwa  "Pendidikan adalah hak dan tanggung jawab setiap warga negara. Pendidikan dasar adalah wajib dan kuliah gratis untuk semua  anak ".
Hal ini dinyatakan dalam UU Pendidikan bahwa "pendidikan dasar adalah wajib bagi setiap anak usia 6-14 tahun; pendidikan dasar berlangsung 5 tahun. Usia sekolah adalah 6 tahun "(Pasal 22). "Pendidikan dasar adalah untuk menyediakan siswa dengan basis awal dan penting untuk pengembangan yang tepat dan kehidupan-panjang dalam hal moralitas, kapasitas intelektual, aset fisik, estetika dan keterampilan dasar bagi kemajuan mereka ke pendidikan menengah" (Pasal 23).
Pendidikan dasar harus mendukung anak-anak dengan pemahaman dasar dari alam, masyarakat dan manusia. Pendidikan dasar harus memberikan keterampilan dasar mendengar, berbicara, membaca, menulis dan menghitung, membentuk kebiasaan seperti latihan fisik, dan menyediakan wawasan dasar yaitu dengan nyanyian, musik, menari, dan seni.
                                            
c.    Pendidikan Menengah
Pendidikan Hukum Vietnam tanggal 11 Desember 1998 telah menegaskan tujuan pendidikan adalah untuk secara komprehensif mengembangkan sumber daya manusia Vietnam dengan moralitas, pengetahuan, kesehatan yang baik, dan setia terhadap ide kemerdekaan nasional dan sosialisme, untuk mengembangkan kepribadian individu dan kapasitas untuk membangun dan perlindungan dari negara.
Tujuan pendidikan sekunder adalah untuk mengembangkan siswa dalam hal moralitas, tubuh fisik, seni, dan keterampilan dasar sehingga dapat melanjutkan studi lebih lanjut atau untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab sepenuhnya dan memberikan kontribusi bagi pembangunan negara .
Pendidikan menengah dasar memperkuat dan meningkatkan prestasi siswa yang diperoleh dari pendidikan rendah, mengembangkan pengetahuan dasar dan memperkenalkan keterampilan teknis dan kejuruan sehingga dapat mengikuti studi masa depan di sekolah tinggi, sekolah kejuruan atau bekerja. Pendidikan sekolah tinggi lebih mengembangkan pengetahuan siswa setelah pendidikan menengah dasar dengan orientasi kejuruan sehingga setelah lulus, dapat bergabung dengan program di universitas atau perguruan tinggi atau langsung bekerja.

d.    Teknis dan Kejuruan Pendidikan dan Pelatihan (TVET)
Pemerintah Vietnam telah bertahan dalam kebijakan ekonomi renovasi. Pemerintah sangat menyadari pentingnya pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan melakukan upaya-upaya besar untuk mengembangkan pendidikan dan pelatihan. Reformasi TVET adalah salah satu upaya. Upaya yang dilakukan untuk sektor TVET dapat dilihat di hampir semua aspek seperti pengembangan kurikulum, guru melatih kembali, memperkuat kemitraan antara bisnis dan institusi pelatihan, kerangka kualifikasi mendirikan, akreditasi, sistem manajemen, dan kerjasama dengan lembaga-lembaga TVET internasional. Sosialisasi TVET dan membuat program yang lebih relevan dengan pasar tenaga kerja adalah kebijakan penting dari reformasi pendidikan.

e.   Pendidikan Tinggi
Dalam Strategi Pengembangan Pendidikan 2001-2010, tujuan pendidikan tinggi di Vietnam adalah “untuk menyediakan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi sesuai dengan struktur sosio-ekonomi dari industrialisasi dan modernisasi bangsa, meningkatkan daya saing dalam kerjasama yang adil bagi Vietnam dalam integrasi internasional ekonomi, untuk memfasilitasi perluasan pendidikan menengah melalui diversifikasi program pendidikan berdasarkan sistem jalan-jalan yang cocok untuk struktur pembangunan, karir dan pekerjaan, lokal dan regional sumber daya kebutuhan manusia dan kapasitas pelatihan dari lembaga pendidikan, untuk meningkatkan kesesuaian pelatihan dengan kebutuhan kerja masyarakat, kemampuan untuk menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri dan bagi orang lain ". Sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pendidikan, pendidikan tinggi mencakup studi sarjana dan pascasarjana. Studi sarjana dapat diploma atau sarjana.

4.   Kurikulum Program Pendidikan
a.   Kurikulum Nasional
Departemen Pendidikan dan Pelatihan (Moet) pada tahun 1990, memiliki tanggung jawab untuk semua pendidikan dan pelatihan di tingkat nasional. Berdasarkan keputusan pemerintah Vietnam 322008-ND-CP, Moet dibagi menjadi 19 departemen terpisah dan unit terkait, yang paling penting adalah unit bertanggung jawab untuk pendidikan dasar dan menengah, pendidikan tinggi, pendidikan guru, pendidikan orang dewasa dan membiayai dan perencanaan departemen. Tanggung jawab Moet termasuk setiap tingkat pendidikan termasuk pra-sekolah, pendidikan umum, pendidikan profesional, pendidikan tinggi dan pendidikan berkelanjutan.
Meskipun memainkan Moet dalam banyak peran utama dalam pendidikan di Vietnam, ada beberapa lembaga pendidikan tinggi di Vietnam yang berada di bawah kementerian lain atau lembaga pemerintah. Contoh ini adalah Hanoi Medical College yang berada di bawah Departemen Kesehatan dan University Sumber Daya Air di bawah Kementerian Pertanian dan Pembangunan Pedesaan. Contoh lebih lanjut dari ini adalah dua Universitas Nasional yang meskipun nominal di bawah Moet beroperasi secara independen sebagai identitas yang terpisah dan melaporkan langsung ke Kantor Pemerintah Vietnam.

b.    Kurikulum Lokal
Moet memiliki peran utama dalam pendidikan, namun ada beberapa terjadi perubahan. Keputusan 85/2003 dan Keputusan No 166/2004/ND-CP, memungkinkan daya otoritas pendidikan lokal lebih dan tanggung jawab untuk memulai program jangka panjang pendidikan lokal di daerah masing-masing.
UU Pendidikan tahun 2005 menetapkan lebih eksplisit persyaratan untuk sistem pendidikan tinggi. Hukum ini didefinisikan pendidikan tinggi sebagai apa yang menerima pada tingkat perguruan tinggi atau universitas. Lebih lanjut mengatur struktur dalam mengejar





























BAB III

PENUTUP


3.1  Kesimpulan
Perbandingan pendidikan adalah berarti menganalisa dua hal atau lebih untuk mencari kesamaan – kesamaan dan perbedaan – perbedaannya. Dengan demikian maka studi perbandingan pendidikan ini adalah mengandung pengertian sebagai usaha menganalisa dan mempelajari secara mendalam dua hal atau aspek dari sistem pendidikan, untuk mencari dan menemukan kesamaan – kesamaan dan perbedaan – perbedaan yang ada dari kedua hal tersebut.
Jadi, untuk mengetahui perbedaan antara sistem pendidikan di Indonesia dan Vietnam dibandingkan ada sistem pendidikan dari sejaraah pendidikannya seperi di Indonesia ada pendididikan sebelum kemerdekaan dan sampai sekarang. Di dua Negara tersebut dibandingkan sistem pendidikannya ada kelemlembagaannya, kurikulumnya dan kebijakan pendidikannya.

3.2  Saran
Untuk dapat meningkatkan mutu pendidikan sebaiknya pemerintah perlu melakukan penyelenggaraan pendidikan yang merata, melalui pemerataan kesempatan masyarakat dalam memperoleh pendidikan baik di desa dan kota sehingga angka partisipasi dapat meningkat, peningkatan mutu penyelenggaraan pendidikan melalui penyediaan sarana dan prasara pendidikan yang merata ke semua jenjang dan lembaga pendidikan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat, peningkatan kualifikasi, kompetensi dan kesejahteraan guru dan dosen, pendistribusia anggaran pendidikan yang tepat sasaran, pemanfaatan teknologi informasi dalam aplikasi pendidikan.





SITOGRAPHI








Tidak ada komentar:

Posting Komentar